My
trip in kadabas
Kadabas, nama sebuah desa yang berada di
timur laut ibu kota sudan, yakni Khartoum. Sebuah tempat yang terkenal dengan khalwatnya (pesantren hifdzul Qur'an). Yap ini adalah liburan semester,
kebanyakan mahasiswa sudan ketika liburan semester menggelar acara dauroh
ataupu khalwah (mengasingkan diri dari
keramaian kota untuk menghafal atau mengulang ulang hafalan Al Qur’an). Sebagian
lagi menggunakannya untuk bekerja atau pulang ke tanah air. Ada juga yang
liburan di negara Negara tetangga macam mesir, turki. Juga ada yang ke Saudi untuk
menjalankan ibadah umroh.
Oke balik lagi dengan perjalanan ke kadabas. Sebuah
desa terpencil. Berada di timur laut ibu kota. Perjalanan ku di mulai dari ibu
kota menuju ke terminal sambat. Bertempat di utara dari ibu kota. Terkadang
perencanaan atau sebuah planning tidak semulus dengan kenyataan. Aku dan teman
teman setelah memesan tiket bus terkena kendala. Ya hal itu sudah wajar kami
alami. Because this is sudan, suatu yang tak terduga akan terjadi. Bus yang
terjadwal pukul 09.00 CAT harus molor kek orang ngorok hingga pukul 12.00 CAT.
Lambat waktu bus jurusan terminal sambat
menuju ke berber (suatu daerah setelah kadaba) kami membeli tiket dengan
jurusan itu dengan sengaja, supaya kami bisa turun di pertengahan terminal
atbaroh dan desa berber. Yah kami tiba di sana waktu menunjukkan pukul 17.00.
Oh man ini sangat sangat menghawatirkan. Karena perjalan selanjutnya adalah ke
tepi sungai nil. Senja manyapa, matahari mulai tiada. Ok fiks !!! kami bahagia
sebenarnya. Yah sebenarnya saja hehe. Alhamdulillah masih utuh orangnya. Man
bacanya ga usah nggegas. Agak hawatir apakah ada sampan atau sekoci yang
hendak pergi ke tepi daerah tepatnya daerah kadabas. Karna gelap gulita sudah
mengaungi kita.
Sejam, dua jam kami menunggu !! berharap ada
ilham atau pertolongan Allah supaya kami bisa sampai hingga tempat tujuan. Cakap
cakap antar kami dengan beberapa orang sudan yang juga menunggu sekoci. Diantara
kami ada yang menikmati sebatan sebatan udud bahasa halusnya cigarette hehe.
Kami mensebatanya dengan perlahan sembari menikmati angina sepoi sepoi yang
datang dari arah sungai nil. Beberapa saat kami terpesona (agak jijik kalau
bilang terpesona, lebih tepat terdiam tanpa kata) dengan orang sudan. Yap dia
sedang santainya memainkan misbahnya (tasbih) dengan dersandar di bebatuan tepi
sungai. Entah apa yang ia lantunkan. Kami yakin itu sebuah kata yang bias menenangkan
jiwa dan raganya.
Di akhir keputusasaan,kami hendak memutuskan “ah
sudahlah, lebih baik kita menginap di rumah orang desa”. Yup betul karna malam
sudah mulai mengekang. Hendak kami bergerak dari tempat, ada sebuah suara dari
sungai. Oh my god !!! itu sebuah perahu.
Bismillah lancar hingga ke tepi sungai. Tepat
pukul 22.00 barulah kami tiba di khalwat (pesantren). Disambut dengan para
santri tua, abdi dalem kata orang jawa. Tak lama kemudian makanan khas sudan
tiba, oh itu sebuah kisroh dan weka. Ada juga full dan adasnya.
Lelap sudah malam itu hingga pagi fajar
membangunkanku. Suasana khas pesantren sungguh membuat kami rindu akan nyantri
di pesantren pesantren jawa. Lantunan ayat ayat suci dari para penghafal ayat
hingga waktu menunjukkan pikul 07.00 teeeetttt !!! bunyi suara tanda untuk
menyantap sarapan.
Sebelum mengikuti kegiatan yang ada di
pesantren kami pun menuju sebuah rumah kecil d belakang makam salah satu
duriah. Ya seyogyanya kami harus sowan terlebih dahulu untuk mendapatkan restu
dan izin mengikuti kegiatan menghafal ataupun murojaah.
Pintu
kami ketok dengan salamnya, terdengar suara dalam ruangan menjawab salam, dan
mempersilahkan kami masuk. Singkat cerita setelah kami mengobrol dengan ndalem.
Beliau mengizinkan kami berada di pesantrennya.
Yah seperti itulah kisah kami di sudan,
ketika liburan datang. Mengisi kekosongan dengan berkhalwat d penjuru desa yang
ada d sudan.
Karna 1 detik adalah harta yang berharga,
sebab itu jangan siasiakan perdetiknya.
~
sudan 29okt19
By ; Viqi (pemula dalam menulis)
